Contoh KPI untuk Bagian Produksi dan Operasional Perusahaan

Key Performance Indicator atau yang disingkat menjadi KPI ini, merupakan sebuah indicator atau pengukuran kinerja karyawan yang juga akan memberikan perusahaan gambaran informasi mengenai sejauh mana mereka telah mencapai sasaran sesuai rencana, strategi, atau program yang telah perusahaan tersebut tetapkan.

Apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak, dan apa saja faktor yang menjadi penghambat atau menjadi kelebihannya. Apakah karyawan sudah memberikan kinerja yang baik atau tidak.

Pengukuran ini tentu membutuhkan indikator utama yang tetap. Oleh karena itu, KPI harus disusun dengan spesifik dan terukur secara jelas. Jelas, rinci, dan eksplisit apa yang menjadi bahan yang diukurnya.

Identifikasi serta monitoring KPI untuk biayanya tidak boleh melebihi nilai yang nantinya akan diketahui dari hasil pengukuran tersebut. Oleh karena itu, pengukuran yang sifatnya berlebihan apalagi jika tidak memberikan nilai tambah sebaiknya dihindari.

CONTOH LENGKAP KPI BAGIAN PRODUKSI DAN PABRIK BISA DI-DOWNLOAD DISINI…..

Salah satu bagian atau departemen yang penting dari sebuah perusahaan dalam melakukan KPI adalah bagian atau departemen produksi. Misalnya mengetahui jumlah dari hasil produksi per shift atau bisa juga persentase dari jumlah produk yang cacat dibandingkan total dari produk yang dihasilkan.

Rumusan KPI yang telah dirangkai dengan baik akan menjadi dasar bagi penyusunan pencapaian target yang ingin perusahaan capai. M

odel ini kemudian akan didapatkan skor untuk hasil evaluasi dari karyawan yang tinggal dibandingkan saja dengan target terukur yang sebelumnya telah ditetapkan tersebut. KPI menjadi bagian dari kombinasi yang akan perusahaan jadikan sandaran untuk mengevaluasi karyawannya.

Setiap skor dari KPI, penggabungannya akan menjadi nilai akhir yang juga bisa menentukan berapa kenaikan gaji atau bonus yang akan karyawan terima.

Pada bagian produksi, untuk melakukan aktivitas KPI atau pengukuran kinerja bisa menggunakan OEE atau Overall Equipment Effectiviteness. Indikator ini bisa diandalkan oleh bagian produksi karena lebih mudah begitu juga untuk operasioalnya bisa dilakukan.

CONTOH LENGKAP KPI BAGIAN PRODUKSI DAN PABRIK BISA DI-DOWNLOAD DISINI…..

Teknisnya dalam mengukur atau menghitung kinerja menggunakan OEE pada bagian produksi yaitu dengan menghitung lama waktu untuk 1 shiftnya, waktu istirahat, downtime, target produksinya, ideal run rate, hasil total untuk 1 shift, dan jumlah scrat reject. Variable yang sebelumnya perlu dihitung yaitu:

1. Planned Production Time, rumusnya yaitu lama waktu kerja setiap 1 shift – waktu istirahat
2. Operating Time, rumusnya yaitu Planned Production Time – Downtime
3. Good Product, rumusnya yaitu hasil total – jumlah reject

Selanjutnya, hitung OEE factor. OEE factor ini terdiri dari availability, performance, serta quality.
1. Availability dihitung dengan (Operating Time : Planned Production Time) x 100%
2. Performance dihitung dengan ((hasil total : Operating Time) : Ideal Run Rate) x 100%
3. Quality dihitung dengan (Good Product : hasil total) x 100%

Nilai OEE-nya kemudian dirumuskan dengan (Availability x Performance x Quality) x 100%.

Selanjutnya, Anda pun bisa menganalisis sesuai dengan nilai-nilai yang dihasilkan. Apakah hasilnya sudah baik, melampaui, standar, atau masih ada yang perlu atau harus Anda perbaiki untuk mengurangi kerugiannya.

Semua ukuran tersebut memang enak atau mudah untuk digunakan oleh setiap manajer dalam sebuah unit kerja. Namun, dalam operasionalnya sering kali dianggap terlalu abstrak sehingga minat dan kesadaran akan penggunaan rumus tersebut dan perhitungan persentasinya tidak digunakan.

Oleh karena itu, bagi manajer atau kepala bagian produksi harus melakukan komunikasi lebih lanjut dengan bagian operasional tersebut untuk menerapkannya mengingat ini merupakan rangkaian untuk meningkatkan kinerja. Komunikasi harus terarah agar bagian operasional sebagai yang mengoperasikannya bisa mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh bagian produksi tersebut.

Bagian produksi untuk melakukan komunikasi tersebut bisa dengan menggunakan teknik komunikasi TAEDD.

TAEDD merupakan istilah yang disingkat dari kata Target, Actual, Efficiency, Downtime, dan Defect. Atau lebih detailnya yaitu mengenai jumlah produksi yang menjadi target dalam setiap shiftnya, jumlah untuk hasil yang actual yang good product, dapat diterima dari setiap satu shift produksi, perbandingan hasil antara good product atau hasil yang aktual tersebut dengan targetnya, jumlah downtime dalam setiap satu shift produksi, dan jumlah produk reject atau yang cacat.

CONTOH LENGKAP KPI BAGIAN PRODUKSI DAN PABRIK BISA DI-DOWNLOAD DISINI…..

Free Ebook

Dapatkan GRATIS 3 ebook bagus tentang Strategi Pengembangan SDM, Manajemen Karir, dan Success Mindset. GRATIS!!!