Cara Menyusun KPI atau Key Performance Indicators untuk Rumah Sakit

Apa yang dapat kita nilai dari kinerja pegawai atau pejabat yang bekerja di sebuah perusahaan? Bagaimana cara kita menilainya? Apakah hanya dari personality appraisal yang diisi setiap tahun? Apakah itu sudah cukup untuk memberikan gambaran tentang produktivitas serta kinerjanya? Atau kita membutuhkan sebuah metode penilaian atau parameter yang lebih objektif?

Sebuah perusahaan membutuhkan metode penilaian yang objektif untuk menilai kinerja atau produktivitas karyawan yang bekerja. Setiap perusahaan, tanpa terkecuali, pasti membutuhkannya karena dari situ akan dapat dilihat dengan jelas apakah perusahaan tersebut mengalami kemajuan atau malah justru kemunduran. Banyak sekali metode yang tersedia, namun yang paling popular dan dianggap paling objektif adalah apa yang disebut sebagai KPI atau Key Performance Indicators.

Metode ini telah dikenal selama berpuluh tahun, dan diterapkan oleh sebagian besar perusahaan, salah satunya adalah rumah sakit.

KPI sendiri secara umum dapat diartikan sebagai metode penilaian akan kinerja sebuah badan, organisasi, perusahaan maupun instansi yang berisi target – target kinerja karyawan atau pegawai yang sangat terukur secara objektif.

Key performance indicator pada umumnya berisikan angka – angka yang mutlak. Angka atau hasil penjumlahan dari angka – angka atau bisa dibilang skor tersebut akan menunjukkan kinerja seorang pegawai atau karyawan yang bekerja, dalam hal ini di rumah sakit tersebut.

Bahkan, key performance indicators atau KPI seringkali dipakai oleh pihak manajemen sebuah perusahaan, dalam hal ini rumah sakit, untuk menilai apakah karyawan tersebut telah siap dipromosikan atau masih membutuhkan waktu dan pelatihan yang lebih banyak. Dari skor yang terkumpul tersebut, pihak management rumah sakit bahkan dapat menilai kinerja dan produktivitas karyawan tersebut.

Dalam pembuatannya, key performance indicators rumah sakit akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, satu yang paling berpengaruh adalah proses bisnis rumah sakit tersebut. Pada umumnya, setelah key performance indicators dibuat, analisa awal adalah dengan pembuatan balance scorecard yang bersumber pada visi rumah sakit tersebut. hal ini berfungsi agar KPI yang dibuat menjadi lebih terkait dengan suatu proses serta saling memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain.

Balanced scorecard sendiri akan sangat berguna, terutama bagi rumah sakit yang belum pernah menerapkan metodologi ini. Metode ini dianggap sebagai salah satu yang paling sederhana namun sangat efektif dalam menilai kinerja karyawan atau pegawai rumah sakit dan secara umum dapat memberikan gambaran apakah rumah sakit tersebut mengalami kemajuan atau malah justru kemunduran.

Selain itu, hasil evaluasi yang ada pada balanced scorecard juga akan berguna untuk menentukan langkah ke depan atau strategi semacam apa yang akan digunakan untuk meraih target yang diinginkan.

Banyak ahli berpendapat bahwa penggunaan metode balanced scorecard adalah metode terbaik dan terobjektif dalam pengukuran kinerja bisnis. Ada empat perspektif utama yang disorot melalui metode ini, yaitu, perspektif financial atau keuangan, perspektif proses bisnis, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan serta perspektif konsumen.

Perancangan kerangka diawali dengan penerjemahan visi dan misi serta tujuan berdirinya rumah sakit tersebut. Dalam tahapan ini, dibutuhkan adanya data yang mencakup visi, misi, tujuan serta strategi dari rumah sakit terkait yang semuanya telah disusun oleh pihak manajemen. Tahap selanjutnya adalah menerjemahkan visi, misi serta strategi tersebut untuk menjadi sasaran strategis pada keempat perspektif tersebut di atas.

Sasaran strategis sendiri adalah target – target yang ingin diraih oleh pihak rumah sakit ke depannya. Sasaran strategis yang telah diterjemahkan ke dalam balanced scorecard kemudian diaplikasikan dengan membuat perencanaan strategis yang pada umumnya terdiri atas tiga komponen penting, yakni ukuran, target dan inisiatif strategis. Ukuran strategis yang dibuat harus sesuai dengan sasaran atau target pada masing – masing perspektif.

Kemudian, langkah selanjutnya adalah dengan membuat target strategis yang merupakan indikator keberhasilan strategis. Terakhir adalah membuat inisiatif strategis yang berfungsi mewujudkan target strategis rumah sakit tersebut.

Langkah selanjutnya adalah dengan membuat perhitungan terhadap bobot dari masing – masing perspektif beserta target dan ukuran strategisnya. Pengukuran tersebut dilakukan terhadap aspek kinerja yang dapat diukur yang secara umum akan menunjukkan kinerja rumah sakit. Hasil yang didapat dari pengukuran tersebut akan menjadi bahan masukan atau pertimbangan bagi rumah sakit untuk memperbaiki kinerja agar dapat bersaing dengan yang lain.

Slide1

Slide1