Menyusun KPI atau Key Peformance Indicators untuk Restoran dan Hotel

Apa yang paling dicari oleh para tamu dari hotel yang mereka singgahi? Tentunya adalah suasana hotel yang nyaman, yang enak dilihat, yang memiliki fasilitas yang lengkap, makanan disajikan oleh restorannya dan lain sebagainya. Memang, harus diakui bahwa masih banyak orang yang menggunakan pertimbangan – pertimbangan tersebut ketika mereka memilih hotel untuk tempat menginap, terutama mereka yang termasuk golongan menengah ke atas yang ingin menginap di hotel berbintang yang memiliki beragam fasilitas yang mampu memanjakan mereka.

Banyak chef – chef kelas dunia yang memilih untuk berkarier atau memulai kariernya dari restoran hotel. Dari sana, mereka membangun reputasi kelas dunia yang secara tidak langsung kemudian menjadi salah satu “atraksi” utama dari hotel tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila dalam usahanya untuk mencapai target yang dibuat, hotel – hotel berbintang seringkali berani untuk mengalokasikan budget besar di sektor makanan atau dapur. Hotel – hotel tersebut bahkan berani untuk memberikan gaji yang sangat istimewa kepada chef – chef kelas dunia.

Dapur hotel kemudian menjadi salah satu sektor yang paling mendapat perhatian dari pihak manajemen termasuk dengan memberlakukan atau membuat KPI atau key performance indicators.

Key performance indicators telah diaplikasikan di banyak sektor, dan salah satunya adalah di industri perhotelan. Penerapan KPI bukan hanya semata untuk memonitor kinerja staff, termasuk chef yang bekerja di dapur hotel saja, namun lebih daripada itu, hasil yang didapatkan nantinya akan memberikan masukan atau penilaian terhadap strategi pemasaran yang telah dilakukan.

Tentu saja, penerapan KPI tidak akan mampu untuk menyelesaikan permasalahan atau kendala – kendala yang ada sekaligus.

Akan tetapi, dari hasil yang didapatkan nantinya, pihak manajemen akan mampu untuk menilai apakah strategi yang digunakan selama ini telah memberikan hasil yang sesuai dengan harapan ataukah belum. Bahkan, secara umum, penerapan KPI dapat memberikan gambaran tentang kemajuan atau bahkan kemunduran perusahaan, dalam hal ini hotel, yang kemudian akan dijadikan acuan untuk menyusun strategi marketing yang baru.

Di industri perhotelan, key performance indicators akan diterapkan kepada seluruh sector yang ada, baik yang ada di dalam hotel maupun di luar, dan salah satunya adalah terhadap dapur hotel atau restoran hotel. Sektor ini dianggap sebagai salah satu bagian terpenting dari hotel, karena banyak hotel, terutama yang telah berlabel bintang, berani untuk mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk membuat dan membangun restoran yang istimewa. Investasi yang telah disuntikkan ke restoran hotel harus dapat memberikan hasil yang maksimal, jika tidak, maka bisa dibilang hotel tersebut mengalami kerugian.

Secara umum, seperti halnya pada industri yang lain, key performance indicators untuk dapur hotel terbagi atas beberapa bagian, yakni financial, tamu, proses internal serta pembelajaran dan perkembangan.

Kategori financial mencakup segala sesuatu yang berkenaan dengan alokasi anggaran dan laba yang dihasilkan oleh restoran hotel tersebut. pihak hotel tentunya sudah membelanjakan budget besar untuk membeli bahan makanan, pemeliharaan dan menggaji karyawan serta chef. Evaluasi yang dilakukan akan dapat melihat secara jelas tentang maju mundurnya restoran hotel tersebut.

KPI yang berkenaan dengan tamu mencakup atau membaca tingkat kepuasan para tamu yang berkunjung dan menikmati sajian di sana. Kepuasan tamu menjadi salah satu hal yang sangat krusial disebabkan karena segala sesuatu yang dilakukan oleh pihak hotel semata – mata adalah untuk memberi kepuasan kepada mereka. Berapa banyaknya tamu yang datang dan menikmati makanan yang disajikan oleh restoran hotel, secara umum akan memberikan gambaran apakah mereka puas atau tidak dengan apa yang ditawarkan oleh restoran tersebut.

Proses internal, pembelajaran serta perkembangan secara khusus mencakup personil yang bertugas di restoran hotel. Hasil yang didapatkan nantinya akan memberikan gambaran kepada pihak manajemen apakah perlu untuk memberikan pelatihan tambahan kepada karyawan atau mungkin yang lain, termasuk penggajian dan bonus.

Di samping itu, ruang lingkup ini juga dapat dipakai untuk membantu karyawan menentukan “jalur” dalam bekerja sehingga target yang telah dibuat akan bisa dicapai.

Slide1